IMG-20260313-WA0009
LANGKAH KECIL DIANTARA HALAMAN

 

Cerpen

Karya : Nadia Atiqah Zahra 

Di sekolah, semua orang kenal Aluna sebagai anak yang nggak bisa diam. Kalau ada tugas kelompok dia yang paling ribut. Kalau ada waktu kosong, dia yang paling cepat buka hp. 

Buku? 

Cuma disentuh kalau kepepet. 

Suatu hari, OSIS ngumumin program baru : “Bergerak bersama literasi.” Setiap kelas wajib bikin gerakan nyata – entah itu pojok baca, bedah, buku, atau proyek menulis.

“Kenapa sih harus kita duluan?” keluh seseorang dari belakang.

Aluna setuju. Menurutnya, literasi cuma istilah keren buat sesuatu yang ujung-ujungnya nambah tugas. 

Ia satu kelompok dengan Arumi dan Dinda. 

Arumi tipe orang yang tenang dan suka baca. 

Dinda jago ngomong. 

Aluna? Modal nekat dan suara paling kencang. 

Mereka sepakat bikin pojok baca kecil di belakang kelas. 

Masalahnya, hampir nggak ada yang peduli. 

Waktu mereka minta sumbangan buku, ada yang jawab, “Ngapain sih? Palingan juga nggak ada yang baca.”

Kalimat itu bikin Aluna diam. 

Karena jujur aja… ia sendiri juga nggak yakin bakal ada yang baca. 

Konflik makin terasa waktu pembagian tugas presentasi. 

“Al, kamu bagian penutup ya.” kata Arumi santai. 

“Hah? jangan gue lah” 

“Justru kamu, biar semua orang denger.” 

Aluna kesal, ia tahu maksudnya baik, tapi dia takut salah ngomong, takut dikecewain, takut nggak sepintar yang lain. 

Hari presentasi datang. 

Kelompok lain tampil serius banget, ada yang pakai data, ada yang pakai video. 

Giliran mereka… 

Arumi jelasin pentingnya literasi di era digital, Dinda ngomong soal dampak hoaks dan pentingnya baca sebelum percaya sesuatu, Aluna maju terakhir.

Ia pegang kertas, tangannya dingin.

Di bangku belakang, ada yang keliatan nggak fokus.

Tiba-tiba ia merasa kecil.

Selama ini ia sering ketawa paling keras, tapi ternyata, saat harus menyampaikan sesuatu yang penting, suaranya hampir hilang.

Selama ini ia sering ketawa paling keras. Tapi ternyata, saat harus menyampaikan sesuatu yang penting, suaranya hampir hilang.

Ia hampir saja membaca cepat dan selesai. 

Tapi pagi itu, sebelum berangkat sekolah, ia sempat buka buku lama milik kakaknya. Di dalamnya ada kalimat yang bikin dia kepikiran:

“Orang yang tidak membaca mudah diarahkan, sedangkan orang yang membaca tahu kemana ia melangkah.” 

Aluna menarik napas. 

“Gue dulu mikir literasi itu ribet.” ucapnya pelan. 

“Baca buku, nulis, diskusi… kayaknya nggak terlalu penting.” 

Beberapa teman mulai melihat ke depan. 

“Tapi ternyata, tanpa sadar kita sering percaya hal yang salah cuma karena nggak mau baca sampai habis. Kita sering salah paham cuma karena nggak mau ngerti sudut pandang orang lain.”

Suasana perlahan hening. 

“Kalau kita nggak bergerak bareng, pojok baca ini cuma jadi pajangan. Tapi kalau kita mau mulai, walau cuma lima menit sehari… mungkin kita nggak cuma jadi generasi yang jago scroll, tapi juga jago mikir.”

Ia menutup kertasnya. 

Nggak ada yang tepuk tangan yang heboh, Tapi nggak ada yang ketawa. 

Minggu-minggu setelah itu, pojok baca mereka pelan-pelan mulai dipakai. Awalnya cuma Arumi. Lalu Dinda. Lalu dua anak lain yang biasanya ribut

Aluna nggak langsung berubah jadi rajin baca tiap hari.

Tapi ia mulai duduk di sana saat istirahat. Kadang cuma lima halaman. Kadang cuma sepuluh menit.

Gerakan kecil itu mulai terasa nyata. 

Sampai suatu siang, Arumi datang dengan mata yang sembab. 

“Aku pindah bulan depan.” katanya pelan. 

Aluna kira dia bercanda. 

Ternyata tidak. 

Dunia rasanya berhenti sebentar. 

Selama ini Aluna nggak sadar kalau yang paling konsisten menghidupkan pojok baca itu Arumi. Dialah yang nyusun buku, ngajak teman lain, bikin diskusi kecil.

Hari terakhir Arumi di sekolah, pojok baca terasa berbeda. Kursi dekat jendela kosong.

Aluna duduk di sana lama.

Ia sempat berpikir, “Buat apa lanjut kalau yang mulai aja sudah pergi?”

Tapi sore itu, seorang anak kelas sepuluh mendekat.

“Kak, boleh pinjam buku yang kemarin dibahas?”

Aluna menatap rak kecil itu. Buku-buku yang dulu ia anggap nggak penting, sekarang punya bekas lipatan, tanda baca, bahkan coretan kecil.

Ia tersenyum tipis.

“Ambil aja. Kalau mau, besok kita bahas bareng.”

Arumi memang pindah.

Kelas mereka juga nggak menang lomba literasi tingkat kota.

Tapi pojok baca itu nggak ikut pindah,

Ia tetap di sana.

Hidup, dipakai, dibuka.

Dan Aluna akhirnya paham satu hal:

Bergerak bersama literasi bukan soal seberapa banyak buku yang selesai dibaca.

Tapi soal siapa yang memilih tetap berjalan, bahkan saat teman seperjalanannya harus pergi lebih dulu.

Karena beberapa orang mungkin meninggalkan ruang kelas.

Tapi halaman yang mereka buka… tidak pernah benar-benar tertutup.

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait