IMG-20260304-WA0009
Membatik Celup, Menemukan Kejutan dalam Kesabaran, Menumbuhkan Cinta pada Budaya Literasi

Karya : Siti Mutiah, S.E., M.Pd. 

Esay  Inspiratif

Pendidikan sejati bukanlah proses mengisi bejana kosong dengan segudang rumus, melainkan upaya menyalakan api di dalam jiwa. Di Madrasah kami, MTsN 1 Pasuruan, kami meyakini  sebuah filosofi mendalam: bahwa kurikulum bukan sekadar dokumen administratif yang kaku, melainkan sebuah “Ekosistem Cinta”. Dalam kegiatan kokurikuler, kami mengintegrasikan Kurikulum Berbasis Cinta— sebuah pendekatan yang selaras dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang “Pendidikan yang Menghamba pada Anak”.

Menjadi seorang guru fasilitator di Madrasah bukan sekadar mentransfer ilmu di dalam ruang kelas yang kaku. Bagi saya, ini adalah perjalanan hati. Tahun ini, kami memulai sebuah petualangan yang kami sebut “Integrasi Kurikulum Berbasis Cinta”. Melalui proyek kokurikuler ini, saya menyaksikan bagaimana dinding-dinding madrasah berubah menjadi taman bermain yang penuh tawa, kreativitas, dan penuh makna. Pada Kegiatan kokurikuler Tahun Pelajaran 2025/2026 ini MTsN 1 Pasuruan dimulai dari kegiatan kelas VII yaitu Membatik Celup Ikat.

Alasan memilih Membatik Celup untuk kelas 7 adalah untuk merayakan keberagaman. Di usia transisi, mereka seringkali ragu untuk mengekspresikan diri. Membatik celup mengajarkan mereka bahwa setiap ikatan yang berbeda akan menghasilkan pola yang unik—sama seperti kepribadian mereka. Keunikannya muncul saat momen “pembukaan ikatan”. Suasana kelas pecah oleh pekikan gembira: “Ibu, lihat! Polanya jadi seperti bintang!” atau “Bu, warnanya tercampur tapi malah jadi cantik sekali!”.

Project membatik ikat celup ini membawa dampak mereka belajar bahwa ketidakpastian tidak selalu menakutkan. Kadang, hal-hal yang tidak terduga dalam hidup, jika dihadapi dengan persiapan (ikatan) yang kuat, akan menghasilkan keindahan yang luar biasa. Saat mereka menjemur kain berwarna-warni di halaman madrasah, saya melihat binar mata yang berkata, “Saya unik, dan karya saya berharga.”

Batik merupakan warisan budaya nasional, dan project ini memberikan pengalaman belajar yang mendalam bagi siswa tentang mencintai tanah airnya dengan mewarisi kekayaan budaya Indonesia. Literasi dalam pembuatan batik ini adalah pemahaman mendalam mengenai sejarah , teknik, bahan, dan filosofi motif batik, bukan sekedar kemampuan teknis membatik. Hal ini mencakup pengenalan budaya, kreativitas dalam merancang pola, serta ketelitian dalam proses tradisional, yang meningkatkan apresiasi terhadap warisan budaya Indonesia. Dengan literasi yang baik, pembuat batik tidak hanya menghasilkan karya fisik, tetapi juga menyampaikan cerita dan nilai-nilai luhur di balik kain tersebut.

 

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait