1000399589
Saat Perpustakaan Jadi Tempat Favorit

Saat Perpustakaan Jadi Tempat Favorit

karya : syaqilla Al Keysa MTSN 1 pasuruan 

Dulu, perpustakaan di sekolah Raka dan Renata adalah tempat paling sepi. Rak bukunya berdebu dan kursinya jarang dipakai. Kalau jam istirahat, semua murid lebih memilih ke kantin atau bermain di lapangan.

Raka paling malas kalau disuruh masuk perpustakaan.

“Ngapain sih ke sana? Isinya cuma buku besar semua,” keluhnya.

Renata sebenarnya suka mewarnai, tetapi juga tidak betah lama-lama di perpustakaan. Menurutnya, tempat itu terlalu sunyi dan biasa saja.

Suatu hari, guru baru mereka, Bu Elvira, masuk kelas sambil membawa beberapa buku cerita.

“Mulai besok, setiap pagi kita akan membaca sebentar sebelum pelajaran dimulai,” kata Bu Elvira.

Raka langsung melirik Renata dan berbisik pelan.

Hari pertama membaca, Raka hanya membuka buku tanpa benar-benar memperhatikan isinya. Matanya sibuk melihat jam dinding. Renata hanya membalik halaman sambil melihat gambar.

Masalah muncul saat Bu Elvira memberi tugas.

“Besok, kalian ceritakan sedikit tentang buku yang kalian baca.”

Raka panik.

“Aduh, aku nggak ngerti ceritanya,” katanya pada Renata.

Renata juga cemas.

“Aku takut salah ngomong di depan kelas.”

Sore itu hujan turun deras. Lapangan basah dan kotor, kantin pun ramai. Mau tidak mau, Raka dan Renata masuk ke perpustakaan.

Raka mengambil buku paling tipis. Renata memilih buku bergambar tentang dunia fantasi.

Awalnya mereka diam saja. Namun beberapa menit kemudian, Raka melirik Renata yang sedang tersenyum melihat bukunya.

“Buku kamu kenapa?” tanya Raka.

“Lucu sekali buku ini, ada kucing kecil yang nyasar,” jawab Renata sambil tertawa kecil.

Raka ikut tertawa.

“Buku aku juga tentang anak yang nyasar di laut. Kok sama-sama nyasar, ya?”

Mereka membaca sampai hujan berhenti. Tanpa sadar, Raka merasa senang duduk di samping Renata. Biasanya ia cepat bosan, tetapi kali ini berbeda.

Sejak hari itu, Raka mulai sering mencari Renata kalau ingin ke perpustakaan.

“Renata, ke perpustakaan yuk,” katanya suatu hari.

Renata tersenyum.

“Ayo, aku mau cari buku.”

Saat diminta bercerita di depan kelas, Raka masih gugup, tetapi ia memberanikan diri.

“Aku baca buku tentang anak yang tersesat di laut tapi tidak menyerah,” katanya pelan.

Renata maju setelahnya.

“Aku baca tentang dunia penuh warna dan semua orang saling membantu,” katanya sambil tersenyum.

Bu Elvira bertepuk tangan.

“Kalian hebat, sudah berani maju ke depan untuk bercerita.”

Sejak itu, perpustakaan yang dulu sunyi akhirnya mulai ramai. Raka dan Renata sering duduk berdampingan sambil membaca. Kadang Raka membantu Renata memilih buku, kadang Renata menunjukkan gambar-gambar menarik pada Raka.

Suatu sore, Raka berkata pelan,

“Renata, aku suka ke perpustakaan sekarang… soalnya bisa baca bareng kamu.”

Renata tersenyum malu.

“Iya, aku juga. Lebih seru kalau tidak sendirian.”

Bu Elvira yang lewat hanya tersenyum melihat mereka.

Perpustakaan kini menjadi tempat favorit Raka dan Renata. Bukan hanya karena bukunya, tetapi karena mereka menemukan teman berbagi cerita di sana.

Dan sejak itu, perpustakaan bukan lagi tempat membosankan, melainkan tempat penuh tawa, cerita, dan kebiasaan baru yang menyenangkan.

Jadilah membaca sebagai jendela dunia, dan persahabatan sebagai alasan untuk terus membuka setiap halamannya.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait