1000400165
Satu Janji Aziz 

Cerpen : Satu Janji Aziz

 

Karya : Nadhifa Nur Fauzia

MTSN 1 Pasuruan 

Suara bel menggema memecah keheningan sekolah berwarna hijau yang selalu dinanti para siswa, di antara banyaknya siswa yang berlalu-lalang mengisi perut kosongnya di kantin. Aziz Ar-rasyid lebih memilih singgah di nyamannya perpustakaan yang menenangkan dengan aroma buku yang menjadi kesukaannya. Sudah tiga minggu ini Aziz selalu membaca buku di perpustakaan, selain menenangkan, ada satu harapan yang harus ia capai dalam waktu dekat ini.

Dinginnya udara AC menyapa kulit Aziz yang terlihat fokus pada buku sejarah yang ia baca. “Kursi ini kosong, boleh duduk di sini?” tanya satu gadis asing itu yang hanya dijawab dengan anggukan saja oleh Aziz, suasana perpustakaan kini kembali hening, hanya suara lembar-lembar buku yang bergesek.

~•~

Suasana tenang dengan langit berwarna orange, Aziz tak langsung pulang ke rumah seusai sekolah, ia menyempatkan diri untuk pergi ke suatu tempat yang menjadi kebiasaannya setiap satu bulan sekali.

Begitu Aziz masuki toko yang begitu ramai dengan orang-orang yang berlalu-lalang mencari buku yang di inginkan, Aziz menuju rak buku yang bertuliskan non-fiksi. Sekitar lima belas menit lamanya Aziz mendapatkan dua buku yang menjadi wishlistnya.

Dalam perjalanan pulang Aziz menyembunyikan buku yang baru saja ia beli ke dalam tasnya, tak jauh keberadaannya dari rumah, Aziz melihat Emma-ibu tirinya yang berdiri di ambang pintu. “Terlambat setengah jam, dari mana saja!?” ucap sang ibu tiri pada Aziz yang hanya di jawab dengan alasan yang kurang jelas, namun Emma tak terlalu memedulikan sehingga Aziz bisa memasuki rumah dengan napas lega.

Aziz mengambil buku bersampul merah lalu merebahkan dirinya di atas ranjang sembari menatap langit-langit kamar dengan berandai mimpinya bisa tercapai dan tanpa sadar ia tertidur.

Bau samar menyelinap kamar Aziz yang tenang, membangunkan Aziz dari tidur lelapnya. Aziz mengendus bau samar hingga membuatnya keluar dari kamar dan pergi mencari di mana bau itu berasal walau rasa kantuk masih menyelimuti.

Di halaman belakang Aziz menemukan jawabannya, bau asap sangit yang mengepul diudara dari sesuatu yang ibu tirinya bakar, Aziz mendekat untuk melihat apa yang sedang Bu Emma bakar, setelah ia lihat lebih dekat ada banyak bukunya yang ternyata di bakar, dunia kecil tempatnya bermimpi. Bagai berlatih tajam yang menusuk ulu hatinya, Tubuh Aziz ambruk terduduk lemah di atas tanah. Di balik kobaran api yang kian membesar Bu Emma menoleh perlahan sebuah senyum sinis terukir di wajahnya tanpa memiliki rasa bersalah, seolah menikmati setiap kehancuran yang terpancar dari tatapan kosong Aziz.

Lama sudah Aziz menyisihkan uang sakunya untuk membeli banyak buku karna ingin membangun impiannya dan juga keinginan bunda kandungnya yang telah tiada, Aziz berlari ke kamarnya memastikan bahwa tidak semua bukunya di bakar oleh ibu tirinya. Takdir masih memihak Aziz, walaupun tersisa tiga buku yang masih utuh. Aziz bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan membalas rasa sakitnya.

~•~

Minggu pagi ini Aziz pergi ke danau dengan membawa satu buku bacaan dan ponsel ditangannya. Suasana begitu damai dengan angin sepoi-sepoi menerpa kulitnya dan tanaman bergoyang-goyang seolah menyapanya. Aziz duduk di bawah pohon besar yang rindang, menyalakan ponselnya dan melanjutkan ketikan kisah yang ada di dalam imajinasinya.

“Hey boleh gabung?” Ucap gadis di depannya membuat Aziz tersentak. Dan hanya deheman dan gadis itu pun duduk tak jauh dari sampingnya.

“Oh ya, ngomong-ngomong kamu anak berprestasi ya di madrasah?” tanya gadis itu yang bernama Anna.

“Hm ya, kenapa memang?” jawab Aziz yang ingin tahu dan meletakkan ponselnya.

“Boleh sharing tentang dunia literasi ngga soalnya belakangan ini aku suka baca buku, salah satunya karya kamu di medsos” Ujar Anna dengan senyum. “Memang, orang pasti suka baca kalau genre nya sesuai yang kita mau.” Tambah Anna lagi yang hanya dibalas anggukan oleh Aziz. Gadis ini lagi, mengapa saat berada di dekatmu terasa berbeda. Gumam Aziz dalam hati tanpa sadar senyum tipis terbit di bibirnya.

~•~

Sudah dua bulan ini Aziz menyibukkan diri dengan mengikuti lomba-lomba yang ia minati dan meraih berbagai juara, dari juara satu hingga juara tiga. Aziz juga mulai mengoleksi buku-buku yang dulu di bakar oleh ibu tirinya dari pendapatan hasil menulisnya di medsos. Di ujung kelulusannya Aziz telah membuat satu buku novel motivasi yang ia terbitkan dan ia sekarang bisa sukses di masa kelulusan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait