Sunyinya Perpustakaan
Nayla Putri Maulya – MTs N1 Pasuruan.
Hai,Kenalin nama aku Kirana,Aku kelas IX di MTs N1 Pasuruan.pagi itu, suasana di MTs N1 terasa sangat berat,bagi Kirana. Namun biasa saja bagi murid-murid yang lain.Hari ini siswi kelas IX menerima hasil ulangan Bahasa Indonesia.Nilai ulangan Bahasa Indonesia Kirana turun drastis karena ia jarang membaca dan kesulitan memahami teks.
“Literasi itu penting, Kirana” kata Bu Sinta lembut saat membagikan hasil ulangan.
Kirana hanya menunduk. Ia merasa membaca itu membosankan.
Suatu hari, sekolah mengadakan gerakan literasi. Setiap siswa wajib membaca di perpustakaan sebelum pelajaran dimulai. Kirana kesal karena merasa dipaksa. Ia bahkan sempat mengeluh pada temannya.
Konflik muncul ketika kelompoknya mendapat tugas membuat resensi buku. Teman-temannya memilih Kirana sebagai penulis karena tulisannya yang rapi. Namun Kirana panik ia belum selesai membaca karena menurut Kirana membaca itu membosankan.
“Aku nggak bisa,” ucapnya dengan mata yg berkaca-kaca.
Teman-temannya kecewa. Mereka takut nilai kelompok turun karena Kirana.
Kirana Merasa bersalah, akhirnya ia memutuskan kembali ke perpustakaan setelah pulang sekolah. Di ruangan yang sunyi itu, ia mulai membaca dengan sungguh-sungguh. Awalnya terasa berat, tetapi lama-kelamaan ia mulai menikmati ceritanya.
Beberapa hari kemudian, Kirana berhasil menulis resensi yang baik. Kelompoknya mendapat nilai tinggi. Bahkan Bu Sinta memuji cara Kirana menyampaikan isi buku ini dengan jelas.
Sejak saat itu, Kirana menyadari bahwa literasi bukan sekadar kewajiban sekolah. Literasi membantunya memahami banyak hal, melatih berpikir kritis, dan membuatnya lebih percaya diri.
Di sudut perpustakaan Kirana tersenyum kecil. Ia menyadari bahwa literasi tidak membosankan seperti yang ia pikirkan.
